Home Nasional Achmad Yurianto Sebut 3 Prioritas penting yang Dapat Jalani Rapid Test

Achmad Yurianto Sebut 3 Prioritas penting yang Dapat Jalani Rapid Test

14
0

Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan virus corona (Covid 19), Achmad Yurianto menjelaskan siapa saja yang menajadi prioritas utama untuk menjalani rapid test. Yuri menyebut ada tiga prioritas yang dikedepankan oleh pemerintah dalam rangka menemukan kasus positif di Indonesia. Sebelumnya Yuri menyebut rapid test ini sebagai upaya tindak lanjut dari kontak tracing yang dilakukan pemerintah.

Sehingga ini akan berbeda dengan rapid test yang dilakukan oleh Korea. "Rapid test ini adalah penjaringan atau screening, jadi jangan disamakan dengan yang dilakukan Korea," ujarnya. "Karena ini adalah tindaklanjut untuk menggiring agar ditemukan kasus positif," imbuhnya.

"Maknanya juga tidak sama dengan perangkat yang dilakukan dengan korea," jelasnya. Lebih lanjut Yuri menuturkan terdapat tiga prioritas utama yang dikedepankan pemerintah untuk menjalani rapid test tersebut. Prioritas pertama kata Yuri adalah berdasarkan tracing atau yang memiliki kontak dengan pasien positif Covid 19.

"Yang saya katakan itu baru prioritas nomor satu, untuk yang kedua adalah petugas kesehatan yang setiap hari kontak dengan kasus," kata Yuri. "Ini menjadi prioritas kedua untuk menjalani pemeriksaan," imbuhnya. Sementara prioritas yang ketiga Yuri menyebut berorientasi pada daerah.

"Misalnya di suatu puskesmas memiliki kasus konfirmasi positif yang cukup banyak," jelasnya. "Maka kita siapkan disana untuk melakukan penjaringan semua kunjungan puskesmas dari penduduk disekitar situ dengan keluhan yang dicurigai mengarah ke Covid 19," sambungnya. "Jadi ada tiga prioritas ini yang kita kedepankan, karena jumlah alat rapid test ini juga tidak sebanyak jumlah penduduk di Indonesia," tegas Yuri.

Dalampenerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid 19),Pakar Epidemologi FKM UI, Pandu Riono menilai perlu mengidentifikasi penduduk dengan melakukanrapid testyang lebih massal. "Yang sekarang sudah dilakukan pemerintah kurang massal dantidak menggunakan cara cara yang kita harapkan bisa mengidentifikasi secara dini,"kata Pandu yang dikutip dari "Jadi kita perlu, karena semuanya hanya 10persen, kalau kita mau menemukan 100, kita harus periksa 1.000," tambahnya.

Oleh karena itu, Pandu menilai pemerintah juga perlu menjalankanrapid testini secara sistematik dengan berfokus pada penduduk yang berisiko. Dengan demikian, diharapkan klaster klaster penularan terbaru dapat teridentifikasi dan angka penularanCovid 19dapat lebih ditekan. "Kita perlu lagi fokus pada penduduk penduduk yang beresiko dan tes ini kita lakukan secara sistematik," kata Pandu.

"Kita harus mengidentifikasikan klaster klaster baru sehingga kita bisa stop di pencegahan, stop orang orang yang tertular baru," tambahnya. Hal ini karena, menurut Pandu, tugas yang harus dilakukan saat ini adalah menurunkan jumlah penularan yang terjadi. Dengan begitu, diharapkan grafik penularanCovid 19di Indonesia dapat menurun pada bulan yang akan mendatang.

"Karena tugas kita yang sekarang adalah merendahkan puncak (penularan), jadiflatten the curve,dan menunda supaya puncak yang tadi sudah rendah ini tidak terjadidua bulan lagi tapi kita bisa tunda pada bulan yang akan datang," tutur Pandu. "Sehingga, kapasitas layanan kesehatan bisa mampu merawat dan bisa menekan kematian yang ada," sambungnya. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan VirusCorona(Covid 19),Achmad Yurianto, kembali merilis data terbaru terkait kasusCovid 19di Indonesia, Kamis (2/4/2020).

Dalam konferensi pers yang digelar di GedungBNPB, Yuri mengungkapkan terjadi penambahan jumlah pasien positifCovid 19 di Indonesia. Yurianto menyebut pihaknya menemukan kasus baru pasien positif sebanyak 113 orang, dari yang dilaporkan sebelumnya,Rabu (1/4/2020). Dengan demikian, data hinggaKamis pukul 12:00 WIB, jumlah kasus positifCovid 19di Indonesia mencapai 1.790 orang.

"Ada penambahan kasus terkonfirmasi positifsebanyak 113 ," ujarnya yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia. "Ini menggambarkan bahwa masih ada penularan di tengah masyarakat kita," imbuhnya. "Sehingga jumlah total menjadi 1.790 kasus positif akumulatif,"ungkapnya.

Kemduian Yurianto menyebutada penambahan pasien yang sembuh sebanyak 9 orang. Sehinggasecarakumulatifjumlah pasien sembuhmenjadi 112 orang. Dalam konferensi persnya ini, Yuri juga mengungkapkan terkait pasienCovid 19yang meninggal dunia.

"Sementara angka kematian dari kasus terkonfirmasi positif bertambah 13 orang, sehingga jumlah total menjadi 170 orang," sambungnya. Adapun Update kasusCovid 19di Indonesia per 2 April 2020 pukul 12.00 WIB yakni kasus kumulatif positif 1.790, pasien sembuh 112 orang serta kumulatif kematian sebanyak 170 orang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here