Home Regional Pernah Merasakan Tidur di Atas Nisan kisah Komisaris Polisi yang Makamkan Jenazah...

Pernah Merasakan Tidur di Atas Nisan kisah Komisaris Polisi yang Makamkan Jenazah Pasien Covid-19

47
0

Cerita anggota polisi yang kini mengemban amanah sebagai petugas pemakaman jenazah Covid 19. Bahkan dalam sehari, ia harus memakamkan hingga lima pasien. Saking lelahnya, polisi ini sampai pernah ketiduran di atas nisan.

Sepenggal lirik lagu dari Armada Band berjudul Pergi Pagi Pulang Pagi, itu boleh jadi mewakili kata hati Sutiono, polisi berpangkat Komisaris yang menjabat sebagai Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan di Polresta Malang Kota. Bedanya, dia tak berpikir soal upah. Tetapi, menunaikan tugas sebagai garda terakhir penanganan Covid 19.

Sutiono harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Selama sebulan terakhir, hari hari dia semakin padat. Dalam sehari, Sutiono bisa memakamkan tiga sampai lima pasien di lokasi berbeda.

Sebuah lonjakan drastis apabila dibandingkan sebelum pandemi. “Pergi pagi pulang pagi bahkan nggak pernah pulang,” kata dia, kepada Surya. Lebih dari separo keseharian Sutiono kini dihabiskan di kantor dan kuburan.

Kontrakannya di Jalan Ciliwung tak lagi pernah ditinggali. Sebab sesuai standar pemulasaran pasien Covid 19, jenazah tak boleh dibiarkan sampai empat jam. Setelah dinyatakan meninggal, petugas harus segera memakamkan.

“Begitu dapat telpon maka harus segera bergerak. Sehari pernah dari jam 7 pagi baru pulang jam 5 pagi,” katanya. Pria asal Kabupaten Lamongan, Jawa Timur ini bahkan harus merasakan tidur di atas nisan kuburan saking lelahnya. Dari pagi sampai tengah malam, Sutiono setia menemani relawan dari public safety center (PSC) 119 dan petugas pemakaman lain.

“Jadi jarak makam satu ke makam lainnya kadang kan jauh, sementara sudah tengah malam. Jadi menunggu dari tim rumah sakit selesai, tidur aja lah di makam,” ceritanya. Momen paling menyedihkan selama memakamkan jenazah Covid 19, kata Sutiono, adalah mendatangkan pemuka agama untuk mendoakan. Tak jarang, kata dia, petugaslah yang menyalati dan mendoakan jenazah.

“Kemarin kami tunggu pendeta nggak datang, menunggu ustaz juga begitu. Akhirnya ya sudah lah anggota saya yang memimpin doa lalu kami kubur,” ucapnya. Meski begitu, Sutiyono tak pernah mengeluh. Dia senang hadir bersama para petugas pemakaman.

“Kalau saya nggak ada siapa yang mau hadir? Karena untuk memakamkan pasien Covid 19 itu butuh prosedur tersendiri,” kata dia. Kehadiran Sutiyono sekaligus ingin memastikan alat pelindung diri (APD) yang dipakai oleh petugas sesuai atau tidak. Dia terus mewanti wanti agar memakai APD berstandar agar tidak tertular virus Corona.

“Saya selalu cek APD nya sesuai atau nggak. Karena kasihan kan kalau sampai mereka tertular,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here