Home Corona Vaksin Merah Putih Diuji Coba pada Hewan Sebelum Pengetesan Terhadap Manusia

Vaksin Merah Putih Diuji Coba pada Hewan Sebelum Pengetesan Terhadap Manusia

25
0

Proses pengembangan vaksin Covid 19 dalam negeri bernama merah putih oleh Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkmann telah memasuki tahap uji coba terhadap hewan mamalia. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan proses uji coba terhadap hewan dilakukan sebelum pengetesan terhadap manusia. "Prosesnya sampai saat ini sedang menyiapkan kloning dari proteinnya yang diujicobakan pada mamalia, untuk hewan, sebelum masuk uji klinis untuk manusia," ujar Bambang dalam acara 'Kegiatan Ilmiah Hakteknas ke 25: Rakornas Prioritas Riset Nasional' yang digelar secara daring, Kamis (13/8/2020).

Proses uji coba terhadap hewan dapat memakan waktu hingga satu bulan. Sebelum uji coba terhadap hewan, LBM Eijkmann melakukan proses kloning protein. Bambang berharap proses kloning ini berlangsung lancar, sehingga dapat dilakukan proses uji coba dengan segera. "Kita harapkan proses kloning ini bisa berjalan lancar, sehingga ketika sudah diujicobakan ke hewan mungkin memakan waktu satu bulan," kata Bambang.

Jika proses uji coba vaksin pada hewan berjalan lancar, LBM Eijkmann bakal menyerahkan kepada perusahaan medis Biofarma untuk uji coba kepada manusia. "Kalau memang efektif di hewan, maka bisa dimulai diujicobakan dengan diserahkan pada Bio Farma untuk memproduksi vaksin yang dipakai dalam tahap pertama," ujar Bambang. Bambang Brodjonegoro mengatakan vaksin dan obat Covid 19 masuk dalam 49 produk yang mendapatkan keutamaan dalam pengembangan Program PRN.

"Kalau yang terkait Covid 19, yang kita masukkan riset tentang vaksinnya sendiri, selain itu obat asli Indonesia baik fitofarmaka maupun yang OHT atau obat herbal terstandar," kata Bambang. Bambang Brodjonegoro juga menjelaskan vaksin dan obat Covid 19 masuk dalam 49 produk yang mendapatkan keutamaan dalam pengembangan Program PRN. Selain itu, riset mengenai suplemen untuk pasien Covid 19 juga masuk dalam PRN. Saat ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sedang melakukan uji coba obat ini di Rumah Sakit Wisma Atlet.

Alat kesehatan untuk penanganan pasien Covid 19 juga masuk dalam PRN. Bambang mengatakan selama ini, alat kesehatan kurang mendapatkan perhatian. Situasi pandemi Covid 19 membuat kebutuhan alat kesehatan meningkat. Sehingga riset pengembangan alat kesehatan menjadi sangat penting. "Kita akui bahwa Indonesia harus mulai bisa melakukan inovasi melalui berbagai macam alat kesehatan yang secara umum sangat dibutuhkan masyarakat," tutur Bambang.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof. dr. Amin Soebandrio menyebutkan tahapan uji klinis vaksin Sinovac tidak mudah dan hasilnya tidak selalu bagus. Harus ada pemantauan kepada relawan yang disuntik selama enam bulan dan di tengah proses tersebut kalau relawan sakit atau mengalami hal lain harus cari relawan baru. Sementara itu dari sekitar 2.400 dosis yang telah diterima Biofarma, rencananya akan diujikan 1.620 dosis kepada relawan kalau berhasil baru Biofarma bisa memproduksi vaksin ini.

"Yang di tes ada 1.620 itu bukan hal mudah, direncanakan enam bulan tes, yang direkrut dari awal gak selalu juga bisa ikut sampai akhir mungkin saja DO karena kondisinya," ungkap Prof Amin. Kemudian kendala berikutnya adalah saat suntikan kedua bisa saja relawan tidak datang atau terjadi kendala lain maka bsia berpengaruh juga terhadap hasil uji. "Kalau sudah daftar, sudah memenuhi persyaratan mereka di tes lolos gak, kalau lolos 1.620 suntik pertama kemudian dua minggu lagi suntik kedua, nah suntik kedua ini belum tentu pada dateng kan," kata Prof Amin.

Prof Amin juga menegaskan vaksin ini nantinya berfungsi membangun kekebalan antibodi dalam tubuh terhadap Covid 19 sehingga meminimalisir penularan yang saat ini masih menjadi pandemi dunia. "Vaksin itu kan sifatnya membangkitkan kekebalan memproduksi antibodi utnuk mencegah jangan sampai sakit dan tidak berat nantinya kalau terkena, tidak untuk terapi," ujar Prof Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here